Suntana Sore
Suntana Sore
Sore itu, Suntana dan Wijaya menyapa matahari yang mulai tenggelam. Terlihat di layar ponselnya, pukul empat lewat lima menit. Ia pun bergegas menyiapkan segala perlengkapan untuk membersihkan AC. Kali ini ia benar-benar menepati janjinya kepada Widya untuk merawat AC di rumahnya. Senyum tipis tersungging di bibirnya saat membayangkan uang tambahan itu, meski tak seberapa, akan sangat berguna baginya.
Dengan meminjam peralatan yang tersedia di tempat kerja, mereka berangkat dengan penuh semangat menuju rumah Bu Widya.
"OTW, Bu." — pesannya terkirim lewat WhatsApp.
Di sepanjang jalan, ia berkali-kali melirik layar ponsel yang digenggam erat. Belum ada balasan dari Bu Widya. Namun ia tak berkecil hati, optimisme tetap menyala di hatinya. Pasti Bu Widya sedang sibuk saja, pikirnya. Ia melangkah mantap, terus melaju menuju alamat yang dituju.
Benar saja, tak sia-sia perjalanan mereka. Sesampainya di rumah Bu Widya, pemilik rumah sudah menunggu di teras, meskipun balasan pesan lewat WhatsApp tadi belum juga terkirim jelas.
"Assalamu’alaikum, Bu Widya."
"Wa’alaikumsalam. Wah, silakan masuk! Silakan bersihkan AC-nya seperti biasanya," ujar Bu Widya ramah dengan wajah gembira.
Ia pun mengantar mereka ke tempat yang dituju, membukakan pintu belakang dan pintu kamar—tanda bahwa mereka bebas bergerak, masuk dan keluar lewat pintu yang telah disiapkan itu.
Pekerjaan pun dimulai. Semua peralatan diturunkan dari mobil pikap yang ia bawa. Lengkap semuanya, tak ada satu pun yang tertinggal—berbeda dengan saat pertama kali merawat AC di rumah ini. Semua dicolokkan ke tempat yang sudah sesuai. Klik, terdengar bunyi saat jempolnya menekan tombol. Namun tak ada suara lain, sepi saja. Diulanginya berkali-kali, alat itu tetap tak menunjukkan tanda hidup, meski tombol sudah dalam posisi menyala.
Suntana menghela nafas panjang. Ini ketiga kalinya ia mengalami kendala semacam ini. Padahal sebelum berangkat, semua alat sudah diperiksa dengan teliti. Tangannya menekan tombol sekali, dua kali, beberapa kali—alat itu menyala normal, persis seperti biasanya. Helaan nafasnya kembali terdengar. Ia mulai merasa cemas. Malam yang kian larut seakan menambah ketegangan, mengeraskan otot dan pikirannya.
"Mungkinkah semua ini terjadi lagi?" gumamnya kepada Wijaya.
"Maksudnya, Mas?" tanya Wijaya dengan heran.
"Sudah tiga kali ini saya membawa alat dari tempat kerja. Awalnya lancar, begitu sampai di tujuan, jadi rewel begini," jawab Suntana.
Bu Widya pun mendekat. "Ada kesulitan, Mas?"
Suntana menjelaskan semuanya, menceritakan bahwa ini memang sudah ketiga kalinya hal serupa terjadi. Entah mengapa, di benaknya mulai muncul cerita-cerita mistis yang pernah ia dengar tentang sekolah itu. Bukan sekali atau dua kali kisah itu tersiar, melainkan sudah berkali-kali dan terus mengembang di antara para guru, murid, maupun pegawai di sana. Tentang penguasa tak kasat mata yang biasanya haris memberi ijin.
Ketika malam kian gelap, hati Suntana pun semakin diliputi kegelisahan. Kopi hitam panas yang disuguhkan Bu Widya seakan membeku di meja, tak tersentuh sama sekali. Nasi goreng yang seharusnya harum dan nikmat disantap kini terlihat mengeras.
Beberapa kali Bu Widya menyarankan agar ia makan dan minum dulu, agar hatinya lebih tenang. Namun Suntana menolak — pekerjaan harus selesai terlebih dahulu, baru boleh menikmati hidangan.
"Bagaimana, Mas? Bisa dikerjakan?" tanya Bu Widya.
"Bisa, Bu. Tapi harus dikerjakan secara manual... resikonya agak lama," jawab Suntana.
"Tak apa-apa, Mas. Jangan terburu-buru, kerjakan dengan tenang saja," ujar Bu Widya menenangkan.
Jam menunjukkan pukul dua puluh tepat. Saat itulah Suntana dan Wijaya akhirnya menyantap kopi yang sudah dingin dan nasi goreng yang sudah mengeras itu.

Komentar
Posting Komentar