Postingan

Disbudpar Kabupaten Blitar Dukung Penuh Pementasan Ketoprak Kridho Manunggal dan Kafe Saljuri

Gambar
 Disbudpar Kabupaten Blitar Dukung Penuh Pementasan Ketoprak Kridho Manunggal dan Kafe Saljuri   Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Blitar memberikan dukungan penuh kepada kafe Saljuri serta Kelompok Seni Ketoprak Kridho Manunggal. Tepat pada Sabtu, 19 September 2026, Kelompok Seni Ketoprak Kridho Manunggal menggelar pementasan di Kafe Saljuri, Desa Kunir, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, dengan mengangkat lakon berjudul Ronggolawe Balelo.   Judul ini dipilih bukan tanpa makna — tersirat pesan-pesan penting yang ingin disampaikan kelompok kesenian Kridho Manunggal menyikapi dinamika yang terjadi di tengah masyarakat, termasuk fenomena yang sedang viral, namun menyentuh lebih dalam. Lebih sekadar kritik sosial, pementasan ini menekankan pada pelestarian budaya ketoprak yang kini mulai langka dan semakin dilupakan. Ketoprak merupakan kesenian yang utuh dan kompleks — perpaduan teater, musik, tata rias, tata cahaya, dan seni suara yang tak dapat diwuj...

Kelas XII Tak Lancar Membaca

Gambar
  Kelas XII Tak Lancar Membaca Masyarakat umum tentu akan tercengang mendengar kabar ini: siswa yang duduk di bangku kelas dua belas ternyata belum lancar membaca. Fenomena ini bukan sekadar keluhan yang muncul begitu saja, bukan pula karangan pihak-pihak di dunia pendidikan semata — melainkan kenyataan yang sungguh-sungguh ditemui di lapangan.   Fakta ini memang bertolak belakang dengan gambaran kemajuan perekonomian serta berita-berita tentang berkembangnya pendidikan di Indonesia. Kementerian Pendidikan pun pernah mengemukakan hal serupa: sekitar 75 persen remaja berusia lima belas tahun di Indonesia belum mampu membaca secara lancar, terutama ketika dihadapkan pada teks-teks yang panjang. Menemukan permasalahan ini, kita tak boleh serta-merta menyalahkan satu pihak atau pihak lain. Penyebab para siswa belum lancar membaca berakar dari berbagai hal. Ketika mereka duduk di bangku Sekolah Dasar — masa yang seharusnya menjadi fondasi untuk mengasah kemampuan membaca — justru d...

LAMPU LED HOREG: Cahaya Mengikuti Irama, Menjadi Jiwa Pawai Sound

Gambar
  LAMPU LED HOREG: Cahaya Mengikuti Irama, Menjadi Jiwa Pawai Sound   Fenomena pawai sound horeg atau cek sound yang marak berlangsung sejak bulan Agustus hingga September ini berkembang pesat. Jika dahulu acara ini hanya berfokus pada kekuatan dentuman bass yang menggelegar, kini sajian visual turut menjadi daya tarik utama berkat kehadiran lampu LED. Dipasang pada truk pengangkut sistem suara, lampu LED warna-warni atau RGB ini menyala dan berkedip dengan presisi, mengikuti setiap hentakan bass serta ritme musik yang diputar.   Tren penggunaan lampu LED RGB ini tidak hanya berhenti di jalanan saat karnaval. Harganya yang bervariasi—mulai dari seratus ribuan hingga ratusan ribu rupiah—membuat teknologi pencahayaan ini makin terjangkau, sehingga dimanfaatkan pula untuk berbagai kebutuhan lain: mulai dari dekorasi panggung kecil, pemanis interior kamar, hingga dipasang pada miniatur truk mainan yang dilengkapi pengeras suara Bluetooth.   Kelebihan lampu LED ini sunggu...

Bahasa yang Digunakan dalam Seni Pertunjukan Ketoprak

Gambar
 Bahasa yang Digunakan dalam Seni Pertunjukan Ketoprak Bahasa yang digunakan dalam ketoprak dibagi menjadi tiga jenis, yaitu bahasa Jawa halus, bahasa Jawa madya, dan bahasa Jawa ngoko.   Bahasa Jawa halus digunakan oleh tokoh bangsawan seperti raja, maupun tokoh yang dihormati, atau saat berbicara kepada orang yang lebih tua dan dijunjung tinggi. Penggunaannya bertujuan menggambarkan keagungan, menunjukkan kedudukan yang tinggi, serta menumbuhkan adab dan kesopanan terhadap mereka yang memiliki derajat lebih tinggi.   Sementara itu, bahasa Jawa madya adalah bahasa bertingkat menengah. Bahasa ini dipakai untuk percakapan antartokoh yang derajat maupun hubungannya setara atau biasa saja.   Adapun bahasa Jawa ngoko merupakan bahasa yang sifatnya santai dan akrab. Biasanya digunakan oleh tokoh rakyat jelata, abdi dalem yang berbicara dengan sesamanya, maupun tokoh pelawak. Bahasa ini juga muncul saat suasana terasa akrab dan santai. Penggunaan bahasa ngoko menandakan ba...

Ketoprak di Era Digital: Menyesuaikan Tanpa Menghilangkan Jati Diri

Gambar
 Ketoprak di Era Digital: Menyesuaikan Tanpa Menghilangkan Jati Diri   Di zaman yang serba cepat ini, kebiasaan masyarakat dalam menikmati hiburan telah berubah drastis. Hampir semua orang kini terbiasa menyelami dunia media sosial, cukup dengan menggeser layar ponsel berulang kali. Tren yang paling digemari adalah konten berupa video pendek atau reels, yang menyajikan segala sesuatu secara ringkas, padat, dan cepat selesai. Kebiasaan ini perlahan namun pasti membentuk selera penonton, termasuk saat mereka menyaksikan pertunjukan seni tradisional seperti ketoprak.   Dahulu kala, ketoprak identik dengan cerita yang panjang berliku, dialog yang bertele-tele, serta bahasa yang indah dan runtut layaknya tutur klasik zaman dahulu. Penonton rela duduk berjam-jam mengikuti alur yang perlahan terurai. Namun di masa kini, pola seperti itu mulai sulit dipertahankan. Penonton zaman sekarang cenderung lebih menyukai penyajian yang langsung pada inti, dialog yang singkat, serta pergan...

Memeriahkan Agustusan: Momen Menggali Bakat Sejak Dini

Gambar
  Memeriahkan Agustusan: Momen Menggali Bakat Sejak Dini Bulan Agustus tahun 2026 menjadi momen kemerdekaan Indonesia yang ke-81. Di saat semangat kemerdekaan berkobar, kita padukan pula dengan semangat mengisi kemerdekaan lewat perayaan yang meriah. Dalam rangkaian acara ini, diadakanlah Panggung Gembira yang diikuti oleh anak-anak—mereka yang kelak di tahun 2045 akan menjadi generasi emas Indonesia, menjadi ujung tombak keberhasilan bangsa.   Kegiatan ini menyasar anak-anak sejak dini, mulai dari tingkat TK hingga SD. Di Panggung Gembira itu, mereka menampilkan karya seni seperti menyanyi, menari, membaca puisi, serta pertunjukan seni tradisional sesuai dengan kemampuan dan hobi masing-masing. Lewat penampilan ini, bakat asli mereka terlihat jelas: tercermin dari kepercayaan diri, gerak-gerik, dan suara yang mereka bawakan.   Yang paling penting, setelah panggung ini selesai, mari kita bersama-sama membimbing dan mengarahkan mereka yang memiliki jiwa seni untuk terus ak...

Semarak 8 Agustus 2026 di Alun-alun Kota Tulungagung

Gambar
 Semarak 8 Agustus 2026 di Alun-alun Kota Tulungagung Tung Widut   Pada tanggal 8 Agustus 2026, digelar pentas seni yang meriah di Alun-alun Kota Tulungagung, kota tercinta kita. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari acara senam massal yang diikuti oleh 250 ibu-ibu paguyuban yang rutin berolahraga setiap hari Sabtu dan Minggu di sekitar kawasan alun-alun.   Suasana semakin hidup dengan berbagai penampilan tarian dan nyanyian dari MIN 4 Tulungagung serta MIN 4 Tululuagung yang membawakan beragam jenis lagu. Selanjutnya, giliran siswa dari Sanggar Aww dan SDN Kampung Dalam 7 yang tampil dengan penuh semangat. Antusiasme terlihat jelas dari para siswa sekolah dasar yang hadir untuk menyaksikan penampilan teman-teman mereka.   Tak kalah menarik, pembawa acara mengajak hadirin secara spontan untuk mengikuti tantangan dan perlombaan seru, seperti lomba kelereng, makan biskuit, estafet, serta berbagai lomba lainnya yang membuat suasana semakin ramai. Acara yang berlangsung...