Kelas XII Tak Lancar Membaca
Kelas XII Tak Lancar Membaca
Masyarakat umum tentu akan tercengang mendengar kabar ini: siswa yang duduk di bangku kelas dua belas ternyata belum lancar membaca. Fenomena ini bukan sekadar keluhan yang muncul begitu saja, bukan pula karangan pihak-pihak di dunia pendidikan semata — melainkan kenyataan yang sungguh-sungguh ditemui di lapangan.
Fakta ini memang bertolak belakang dengan gambaran kemajuan perekonomian serta berita-berita tentang berkembangnya pendidikan di Indonesia. Kementerian Pendidikan pun pernah mengemukakan hal serupa: sekitar 75 persen remaja berusia lima belas tahun di Indonesia belum mampu membaca secara lancar, terutama ketika dihadapkan pada teks-teks yang panjang.
Menemukan permasalahan ini, kita tak boleh serta-merta menyalahkan satu pihak atau pihak lain. Penyebab para siswa belum lancar membaca berakar dari berbagai hal. Ketika mereka duduk di bangku Sekolah Dasar — masa yang seharusnya menjadi fondasi untuk mengasah kemampuan membaca — justru dilanda pandemi Corona.
Belum selesai di situ, kebiasaan pun berubah: orang beralih ke media daring yang berkembang pesat. Media seharusnya menjadi sarana memperlancar bacaan, namun kenyataannya justru menyuguhkan lebih banyak tayangan video dan informasi yang disampaikan secara lisan, bukan dalam bentuk teks. Inilah yang mungkin menjadi salah satu akar masalahnya.
Namun, tak perlu terlalu lama mencari siapa yang bersalah. Yang terpenting adalah tindakan kita — para orang dewasa — untuk menuntun mereka keluar dari kesulitan ini. Masyarakat dapat membantu melalui langkah-langkah sederhana yang membiasakan mereka membaca. Perhatian dan pembatasan penggunaan gawai di rumah oleh orang tua sangatlah mendukung. Bagi para guru, kesabaran dan ketelatenan dalam memberikan materi yang melatih kemampuan membaca pun sangat dibutuhkan.
Orang tua adalah sekaligus teman dan pendidik di rumah. Apapun pekerjaannya — petani, pedagang, maupun buruh — mereka yang meluangkan waktu bersama anak seharusnya menjadikan membaca sebagai rutinitas, meski hanya beberapa menit sehari. Orang tua juga harus menjadi teladan, memberi contoh nyata dengan rajin membaca buku di hadapan anak-anak.
Bagi orang tua yang bekerja keras seharian, hal sederhana tetap bisa dilakukan: mendampingi anak, paling tidak dengan menjauhkan mereka dari gawai dan media sosial untuk beberapa waktu. Sekadar berbincang-bincang dengan suasana hati yang tenang pun sudah berharga. Dengan lingkungan yang tertata dan perhatian yang tulus, anak-anak akan mampu mengarahkan diri mereka ke jalan yang lebih baik.
Membaca bukanlah kebiasaan yang sulit untuk ditumbuhkan. Perlahan namun pasti, mereka akan makin dekat dengan buku, bukan menjauhinya.
Upaya-upaya kecil yang konsisten itu, diharapkan anak-anak kelak akan mampu membaca kalimat-kalimat panjang sekaligus memahami isinya dengan baik. Berbeda dengan kenyataan yang kita jumpai saat ini: untuk membaca satu kalimat yang panjang saja, anak harus mengulanginya berkali-kali. Tampak mereka sekadar melafalkan kata demi kata, belum mampu memahami makna yang terkandung di dalamnya.
Komentar
Posting Komentar