Ketoprak di Era Digital: Menyesuaikan Tanpa Menghilangkan Jati Diri
Ketoprak di Era Digital: Menyesuaikan Tanpa Menghilangkan Jati Diri
Di zaman yang serba cepat ini, kebiasaan masyarakat dalam menikmati hiburan telah berubah drastis. Hampir semua orang kini terbiasa menyelami dunia media sosial, cukup dengan menggeser layar ponsel berulang kali. Tren yang paling digemari adalah konten berupa video pendek atau reels, yang menyajikan segala sesuatu secara ringkas, padat, dan cepat selesai. Kebiasaan ini perlahan namun pasti membentuk selera penonton, termasuk saat mereka menyaksikan pertunjukan seni tradisional seperti ketoprak.
Dahulu kala, ketoprak identik dengan cerita yang panjang berliku, dialog yang bertele-tele, serta bahasa yang indah dan runtut layaknya tutur klasik zaman dahulu. Penonton rela duduk berjam-jam mengikuti alur yang perlahan terurai. Namun di masa kini, pola seperti itu mulai sulit dipertahankan. Penonton zaman sekarang cenderung lebih menyukai penyajian yang langsung pada inti, dialog yang singkat, serta pergantian adegan yang tidak berlarut-larut. Pembicaraan antar tokoh pun sebaiknya tidak terlalu lama, cukup disampaikan secara jelas agar penonton tidak merasa bosan menanti terlalu lama.
Begitu pula dengan unsur kelucuan atau dagelan. Penonton masa kini lebih tertarik pada lelucon yang segar, relevan dengan keseharian, serta muncul secara spontan mengikuti situasi cerita. Bukan berarti dagelan lama tidak bernilai, melainkan materi yang disajikan perlu diperbarui agar tetap terasa dekat dan dapat dipahami oleh semua kalangan, baik tua maupun muda. Para pelaku seni dituntut untuk terus mencari bahan-bahan baru yang hidup di tengah masyarakat saat ini.
Perubahan selera ini menuntut para seniman ketoprak untuk pandai beradaptasi. Mereka harus mampu bersaing dengan daya tarik dunia maya, tanpa kehilangan jati diri kesenian yang diwariskan leluhur. Cerita disusun menjadi lebih menarik dan mudah dipahami, bahasa yang digunakan lebih sederhana namun tetap santun, serta alur dan adegan berjalan lebih dinamis dan tidak berputar-putar.
Menyesuaikan dengan zaman bukan berarti membuang nilai-nilai luhur yang ada di dalamnya. Justru dengan cara seperti inilah ketoprak tetap dapat hidup, dicintai, dan terus diteruskan ke generasi berikutnya di tengah arus dunia yang bergerak semakin cepat.

Komentar
Posting Komentar