Postingan

Tentang Senja

Gambar
 Tentang Senja Tung Widut Mentari lelah berjalan pada siang Waktunya persiapan memasuki gerbang malam Peraduan menunggu seharian Siap menyambut sang raja  beristirahat Cahaya  jingga mengintip dari balik awan Pesona teepsncar indah melengkaip alam Takjub tak terkira diabadikan Dalam bingkai foto yang mempesona Selamat malam mentari Samai jumpa esok pagi Biarkan mata memanjakan diri Menikmati jingga sampai gelap nanti Selalu terukir keindahan sore bersama mentari Tercatat dalm jiwa dan reluh hati Tak mudah terhapus sampai  hari nanti Cerita selalu daat diurai

Pertemuan

Gambar
  Pertemuan Tun Widut Tiga puluh lima tahun silam Bersama setiap mentari mulai menampakan diri Memasuki gerbang sekolah dengan penuh semangat Ceria pertemu teman Mencari ilmu  dari buku  bertumpukan Berdiri dengan sikap siap Seragam putih biru lekap dengan perlengkapan Kaos kaki putih seputih niat saat datang Sebelum pelajaran dimulai Tunduk tanda hormat kala guru memasuki kelas Sikap tegap membaca Pancasila Penuh hikmat sampai tertanam ke dalam jiwa Doa terucap dari bibir serius Memohon kepada Tuhan  agar dilimpahkan semua ilmu Wajah puas terapancar dari mereka Mendapat segudang ilmu sebagai bekal nantinya Semua berlalu sudah Cerita tertimbun  alur kehidupan Sampai kini setelah sekian lama terjeda Kembali berangsur  lerai tanggung jawab Ingatan kembali menyibak Teman lama  ada  pada ingatan  Kini berjumpa kembali Membongkar kenangan lama  Wajah yang kini telah berubah Serasa lucu bilang dibandingkan Tawa kecil terurai mengiringi kebahag...

Menemani Malam

Gambar
 Menemani Malam Tung Widut Sepi meraja dalam malam Gelap tak mampu ditepis oleh cahaya bintang Menggelayut angan pada kerja seharian Hanya sesal membuang waktu hanya untuk sebuah permainan Malam kini aku bersamamu Mengarungi gelap tanpa mata terpejam Berjuta kata harus ku untai Sejuta makna harus tersampai Beratus lembar harus ditulisi Berpuluh langkah harus kulakoni Malam ku temani sepimu Temani pula aku Yang butuh sejuta waktu  bersamamu Malam  Ceritalah padaku Tentang waktu panjang yang ku pinang Untuk menyelesaikan setumpuk tugas Malam Berikanlah cara padaku Agar sejuta kerja selesai dalam sekejam Malam  Aku tetap bersamamu  Sampai batas waktu  kemampuanku

Terbenam Sudah

Gambar
 Terbenam Sudah Tung Widut Pagi berganti siang ketika angan telah hilang Mentari tenggelam saat anggan ikut karam Terbenam sudah imaji yang semalam nelum terukir Mencoba mengumpulkan puing imajinasi Yang sempat tertimbun perjalanan hidu sehari Rasa semakin berat Terlanjur sederet kata tak terikat Kini jemari mulai mengukir Rasa yang muncul dalam ikir Tak sejernih tadi  Setiap untai kaya begitu saja menjuntai Linglung Bingung Haiir semua kata hilang tak meninggalkan bekas Hanipr semua isi lenyap

Selamat Pagi Harapan

Gambar
 Selamat Pagi Harapan  Tung Widut Pagi berselimut kabut  Hamparan hijau  berpetak berlatar gunung di jauh sana Samar terlihat dari kejauhan Seorang datang dengan jalan santai Tangan dipeganggang di belakang tubuh Sesama andangan tertuju pada tiap helai daun Dibelai bulir air  bak mutiara Madi basah rerumputan yang mendasari Langkah demi langkah menyibak kabut di pematang sawah Kecemasan hati dari kedaan tanaman harapan Karena hujan yang tak pada musimnya Selamat pagi kabut  Selamt pagi padiku Baik-baikah kau karena didinginkan semalaman? Tentu cemas ada antara bunga padi yang mulai menyembul Kau harapan hidup kami setahun nanti Memberi makan anak cucu Membayar helai lembar kartu SPP Uang saku yang tsk bisa terhenti Hanya kamu harapan 

Peluit Malam

Gambar
  Peluit Malam Tung Widut Sudah cukup malam Hening ada anatar jemgkerik  dikejauhan Sesekali deru motor membelah pekat Malam hampir sempurna dengan 22.26 Terdengar peluit apnjang berkali-kali Tanpa deru ular besi yang terasa Sembila kilo buka jarak yang dekat Rel berada melintas di kejauhan Hanya hening yang menyabung bunyi Sami terdengar di telinga malam ini Tersambung sebuah cerita Kala dulu alam masih perawan Roda motor belum ada yang  terdengar Saat peluit itu dibunyikan belanda Cerita itu terdengar malam ini Malam sepi dengan peluit panjang

Jakan Kecilku

Gambar
 Jalan Kecilku Tung Widut Pagi menggeliat dalam dingin Kabut tebal selalu menyelimuti Sinar mentari semburat kuning manja  Kala  berpuluh  petani sudah menyibak rasa jalan kecilku Subuh baru usai Pengguna sandal japit dan mukena turun dari masjid Gerobak kecil berisi pupuk melewatinya Orang tanpa sepatu menapakinya Cangkul dipanggul pada pundak kekar Topi lebar persiapan mentari tiba Semangat menyelimuti niat tiap pagi Para pengena seragam melintar dengan kayuhan sepeda mini Tas dipunggung dan bersepatu hitam Embun tak lagi heran Setiap pagi berpapasan Kala terik di atas kepala Jalanan kecil tetap menyapa Tak kalah semangat mereka berlalu  Senja tiba sembunyi dibalik alam Semburat sinar mengucapkan selamat tinggal Jalan kecil menyimpan cerita Sebagai saksi mereka yang melintas