Penyisipan Gerak Modern ke dalam Tari Tradisional

 Penyisipan Gerak Modern ke dalam Tari Tradisional

 


Kesenian tradisional kini perlahan kembali digemari oleh masyarakat luas. Berbeda dengan masa tahun sembilan puluhan, ketika kesenian ini sempat meredup hingga nyaris terlupakan—seakan mati suri: masih ada cerita dan pelakunya, namun tak pernah tampil lagi, baik itu wayang orang, ludruk, ketoprak, maupun tarian sederhana seperti uyon-uyon dan lainnya. Kini, gelagat yang berbeda mulai terlihat: bermunculan tarian-tarian baru yang gerakannya disesuaikan dengan irama kehidupan, gaya hidup, serta selera masa kini. Contohnya tari Marak Sutra yang sejak awal tampil lincah, memikat, dan indah dengan busana yang selaras tema, kini disisipi pula gerakan seperti pargoy atau goyang itik. Hal ini terbukti mampu menarik minat generasi muda untuk kembali mengenal dan mempelajari tarian tradisional. Langkah ini tentu saja sah-sah saja; seni tari tradisi memang harus terus berkembang seiring berjalannya waktu, namun tanpa melupakan nilai-nilai asli yang menjadi jati dirinya. Dengan demikian, pertunjukan tidak hanya tampak indah dipandang, disukai oleh para penari, tetapi juga mampu bertahan dan terus tumbuh mengikuti zamannya.


Penyisipan gerakan seperti pargoy, goyang itik, dan ragam gerak lainnya merupakan wujud perkembangan pemikiran sekaligus penguasaan gerak tari yang lebih luas dari kalangan anak muda masa kini. Kebiasaan mereka mengakses media sosial melahirkan imajinasi yang jauh lebih kaya dibandingkan para pencipta tari di masa lalu. Jika dahulu pencipta tari umumnya hanya mengembangkan gerakan yang diturunkan secara langsung dari gurunya, kini para penari muda telah terbuka melihat ragam perkembangan seni tari dari berbagai penjuru daerah. Hal inilah yang membuat mereka mampu menyisipkan gerakan-gerakan yang dinilai relevan dan disukai oleh para penikmat seni tari di seluruh Indonesia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merajut Mimpi

What's Turonggo Seto

SERPIHAN CERMIN RETAK 12