Gending Sampak Sebagai Pembuka Pertunjukan Ketoprak
Gending Sampak Sebagai Pembuka Pertunjukan Ketoprak
Tung Widut
Meskipun Ladrang Wilujeng menjadi standar resmi, banyak kelompok dan seniman ketoprak yang memilih menggunakan Gending Sampak sebagai pembuka pertunjukan. Gending ini memiliki irama yang cepat, dinamis, dan bersemangat, berbeda jauh dengan nuansa tenang pada Ladrang Wilujeng . Makna kata Sampak adalah gerak dan persiapan, sehingga gending ini sangat tepat digunakan untuk membangkitkan semangat para pemain maupun penonton sejak awal.
Fungsi utama Sampak tidak hanya sebagai pembuka, tetapi juga sebagai penanda perpindahan suasana. Setelah suasana hening dan tenang dari gending pendahulu, irama Sampak digunakan peralihan menuju suasana yang lebih hidup. Gending ini dimainkan bersamaan saat para pemain mulai masuk ke panggung, memberi isyarat bahwa masa persiapan selesai, dan cerita yang penuh peristiwa serta alur kisah akan segera dimulai .
Selain gending di atas, terdapat pula Ketawang Puspa Warna yang kadang digunakan sebagai pembuka atau pelengkap suasana. Puspa Warna berarti bunga beraneka ragam, melambangkan keindahan, keragaman, dan kemegahan. Gending ini menyuguhkan nuansa yang indah dan mempesona, seolah mengajak penonton menikmati segala keindahan seni gerak, suara, dan cerita yang akan disajikan .
Di akhir rangkaian pembuka, sering kali disertakan Tembang Sugeng Amirsani. Liriknya berisi salam hormat, ucapan selamat datang, permohonan maaf atas segala kekurangan, serta pengantar singkat isi cerita. Maknanya: "selamatlah dan perhatikanlah dengan baik", mengundang penonton untuk menyimak pesan moral yang terkandung dalam pertunjukan tersebut.
Secara tradisi dan aturan yang berlaku pada zaman ketoprak Mataram, gending pembuka yang paling baku dan utama adalah Ladrang Wilujeng, dimainkan dalam laras Pelog Pathet Limo atau Slendro Pathet Songo. Kata Wilujeng sendiri berarti selamat, bahagia, dan berkah. Secara makna, gending ini merupakan ungkapan doa agar seluruh proses pertunjukan berjalan selamat, membawa keberkahan bagi penyelenggara, pemain, maupun seluruh penonton yang hadir. Suasana musiknya tenang, agung, dan penuh rasa syukur, memberikan kesan sakral dan hormat sebagai langkah awal acara. Hal ini sesuai dengan pendapat Supanggah (2009), yang menyatakan bahwa "Ladrang Wilujeng menjadi standar pembuka karena muatan nilai positif dan doa yang terkandung di dalamnya"
Daftar Pustaka
1. Supanggah, Rahayu. (2009). Karawitan Jawa: Sejarah, Bentuk, dan Fungsi. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
2. Banoe, Pono. (2003). Kamus Musik. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
3. Tim Penyusun. (2023). Ketoprak (Seni Budaya). Diambil dari https://id.wikipedia.org/wiki/Ketoprak_(seni_budaya)

Komentar
Posting Komentar