Kesenian Ketoprak sebagai Wujud Cinta
Kesenian Ketoprak sebagai Wujud Cinta
Tung Widut
Ketoprak merupakan salah satu kesenian daerah berupa drama. Pernah merajai dunia hiburan masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa Tengah sebagai daerah asalnya dan sebagian wilayah Jawa Timur. Tahun 1990-an, kesenian tradisional ini menjadi salah satu hiburan yang paling digemari dan dinantikan kehadirannya oleh masyarakat luas. Di masa di mana teknologi dan media sosial belum berkembang seperti sekarang, ketoprak menjadi pilihan utama untuk mengisi waktu luang, mengumpulkan warga, dan menyampaikan berbagai pesan kehidupan melalui alur cerita yang menarik.
Di masa kejayaannya, ketoprak bukan hanya sekadar hiburan semata, tetapi juga menjadi mata pencaharian yang menjanjikan. Bahkan, grup ketoprak ternama seperti Siswa Budoyo mampu membayar para pemainnya dengan gaji yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan pegawai negeri pada masa itu. Para pemainnya dapat mengandalkan keahlian bermain peran mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Setiap peran yang dimainkan baik itu peran utama, peran pendukung, maupun peran penghibur memiliki nilai tersendiri dan menjadi kebanggaan bagi para pemainnya.
Namun seiring berjalannya waktu, di tahun 2026 ini, kondisi ketoprak sudah berubah drastis. Kesenian ini hampir punah dan hanya beberapa grup saja yang masih bertahan. Bahkan yang masih ada pun tidak sepopuler dahulu. Jika dahulu ketoprak dapat dijadikan pekerjaan tetap dan dikomersialkan dengan baik, saat ini kesenian tradisional ini hanya berjalan sebagai ungkapan seni belaka. Hanya sedikit orang yang bersedia membayar untuk menonton pertunjukan ketoprak, sehingga grup-grup yang masih ada hanya dapat menampilkan karyanya sebagai bentuk hobi dan rasa cinta yang mendalam terhadap warisan budaya.
Biasanya, pertunjukan ketoprak hanya dapat disaksikan pada momen-momen tertentu saja, seperti peringatan hari besar nasional misalnya Agustusan, atau atas permintaan dan dukungan dari dinas-dinas terkait. Ada juga yang hanya menampilkan ketoprak sebagai hiburan santai yang berisi guyonan semata untuk menghibur warga sekitar. Meskipun demikian, semangat untuk melestarikan ketoprak tidak pernah padam di hati para pecinta seni.
Salah satu bukti nyata semangat tersebut adalah kehadiran Grup Kesenian Kerido Manunggal pimpinan Ki Sukro Bawono seorang dalang asala desa Kolomayan kecamatan Wonodadi Blitar. Grup ini akan menggelar pertunjukan di Lapangan Sumbercangkring Ponggok, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar pada tanggal 2 Mei 2026 mendatang. Pertunjukan ini berlangsung berkat dukungan penuh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar serta Dinas Sosial Kabupaten Blitar, juga dukungan yang hangat dari masyarakat sekitar.
Yang istimewa dari pertunjukan kali ini, Grup Kerido Manunggal tidak tampil sendirian. Mereka bersatu dan berkolaborasi dengan grup Wargo Budoyo berasal dari Desa Bagelenan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Kedua grup ini akan bergabung untuk menampilkan lakon legendaris yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat, yaitu Ande-Ande Lumut.
Kolaborasi antara kedua grup ini memiliki tujuan yang mulia. Dengan bersatu, mereka berharap dapat saling melengkapi kemampuan bermain peran, berbagi pengalaman, dan bersama-sama berusaha melestarikan budaya tradisional yang sudah ada sejak zaman dahulu. Melalui setiap peran yang dimainkan, setiap dialog yang diucapkan, dan setiap gerakan yang ditampilkan, mereka ingin memastikan bahwa ketoprak tidak akan hilang ditelan zaman, tetapi tetap hidup dan dikenal oleh generasi-generasi mendatang.
Semangat inilah yang menjadi bukti bahwa meskipun zaman terus berubah, kecintaan terhadap warisan budaya akan selalu ada, dan ketoprak akan terus menjadi bagian dari identitas budaya bangsa Indonesia.
Sumber gambar: Dola AI

Komentar
Posting Komentar